Kamis, 21 Oktober 2010

Sistem Pemerintahan dan Kekerabatan Suku Sasak



 Bagi bagi ilmu dikit..
Hasil kerja Saya (Roziyan), Dika (Bendol), Taal(Taenk), Iyan (Dephi), Arya Sumani-mani

Suku sasak merupakan salah satu suku yang mendiami pulau Lombok. Etnis sasak merupakan etnis utama yang meliputi 95% dari penduduk seluruhnya. Berdasarkan bukti yang sudah ditemukansuku sasak sudah menghuni pulau Lombok sejak abad IX sampai abad XI masehi. Mengenai kata dari kata sasak tersebut, banyak persi yang menyebutkan, salah satunya adalah menurut Dr. Goris. Kata sasak berasal dari kata saq yang artinya pergi dan saka yang artinya saka jadi jika dihubungkan artinya adalah orang yang pergi dari daerah asalnya dan kemudian tinggal dan menetap di Lombok. Pulau Lombok ini juga dikenal dengan nama gumi sasak karena mayoritas penghuninya yang merupakan suju sasak.

A.    Sistem Pemerintahan

Gumi tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan terjadi di dalamnya baik kerena conflik internal ataupun koflik eksternal. Silih bergantinya kekuasaaan ini terjadi hingga ke era islam yang melahirkan kerajaan kerajaan islam seperti Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Pejanggik.

Di zaman masa penguasaan hindu di Lombok, kerajaan karang asem menguasai Lombok seutuhnya, sekitar tahun 1740 M. untuk memberikan kekuassaan kepada keluarga raja yang terdekat mengingat luasnya pulau Lombok yaitu :
1.      Singasari dengan rajanya Anak Agung Ngurah Made Karang yang terletak di Cakranegara sekitar tahun 1720.
2.      Pagesangan dengan rajanya Anak Agung Nyoman Karang.
3.      Pagutan dengan rajanya Anak Agung Nyoman Sidemen.
4.      Mataram yang memindahkan ibukota Tanjung Karang ke Mataram dengan rajanya yang bernama Anak Agung Bagus Jelantik.
5.      Kerajaan Songkongo dengan rajanya bernama Anak Agung Ketut Rai.

Kerajaan kerajaan tersebut bergabung berdasarkan kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan kepentingan bersama. Untuk memperkuat kepentingan ini keluarga Karang Asem Singasari mendirikan Pure Meru di Singasari(Cakranegara) pada tahun 1744 M. diantara kerajaan kerajaan tersebut singasari, dijadikan wakil kerajaan Karang Asem Bali karena semuanya merupakan Vasal dari karang asem Bali. Keraton di Tajung Karang yang dibangun pertama kali dibangun di Lombok dipindahkan ke Mataram.

Sesudah Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1894 maka untuk menentukan perkembangan selanjutnya, kedudukan (status) pulau Lombok menjadi persoalan sampai tweede kamer negeri Belanda. Sampai akhirnya pulau Lombok disetarakan seperti  penguasaan yang terjadi di pulau Bali.

Kemudian setelah kerajaan Mataram runtuh maka pulau Lombok diberi kedudukan sebagai bagian atau (afdeling) dari keresidenan Balai dan Lombok yang dikepalai oleh seorang presiden yang berkedudukan di Singaraja sebagai ibukota keresidenan, sedangkan afdeling lombok dikepalai seorang asisten residen yang berkedudukan di Mataram sebagai ibukota.


Pulau Lombok pada mulanya dijadikan dua wilayah (onder afdeling) , yaitu wilayah Lombok Timur dengan ibukota Sisik ( Labuhan Haji ) dan wilayah Lombok Barat dengan ibukota Ampenan. Tapi kemudian dirubah menjadi 3 wilayah :

·         Lombok Barat dengan ibukota Mataram
·         Lombok Tengah dengan ibukota Praya
·         Lombok Timur dengan ibukota Selong

Masing – masing dikepalai oleh seorang Belanda dengan kedudukan controleur, sedangkan daerah utara yaitu tanjung ditempatkan seorang gezaghebber (semacam penguasa perang). Kemudian tiap- tiap wilayah dibagi lagi menjadi beberapa kedistrikan yang dikepalai seorang kepala distrik dan bagi orang orang Bali diangkat tiga orang yang berkedudukan sebagai punggawa dari orang bali. Pembagian wilayah kedistrikan :

·         Lombok Timur dibagi menjadi : Masbagik, Rarang, Pringgabaya dan Sakra
·         Lombok Tengah dibagi menjadi : Praya, Batukliang, Kopang dan Jonggat
·         Lombok Barat dibagi menjadi : Ampenan, Gerung, Bayan dan Tanjung

Adapun susunan pemerintahan sesudah Pulau Lombok dikuasai belanda pada garis besarnya menjalankan kebijaksanaan kerajaan Mataram hanya terjadi perubahan pada seluruh wilayah lombok bahwa sistem kepunggawaan dan perbekelan untuk wilayah yang dihuni masyarakat  sasak dihapus dan diganti dengan sistem kedistrikan yang dikepalai seorang kepala distrik dari golongan orang sasak sendiri. Tidak lagi merupakan sistem tetepi berdasarkan teritorial wilayah dengan batas batas tertentu.

Di zaman kekuasaan Jepang (Nippon) struktur pemerintahan di Lombok segera diganti tapi perubahan organisasinya tidak banyak bahkan dikatakan tetap, hanya namanya yang berubah. Pulau lombok tetap terbagi menjadi 3 daerah : Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat yang masing masing diperintahkan oleh bunken kanrikan setara dengan bupati. Jabatan distrik diubah menjadi gunco setara dengan camat dan desa menjadi sunco setara dengan kepala desa. Untuk pimpinan tertinggi untuk daerah Lombok disebut Kenkanrikan atau setara dengan Gubernur.

Jawatan jawatan yang penting lainnya segera diadakan juga. Seperti Kepolisian, Urusan bahan makanan dan urusan pemotongan hewan. Pemerintahan dijalankan dengan istilah Iron Hand  atau Tangan Besi. Untuk keperluan pertahanan dan keamanan pada tahun 1943 pemuda pemuda yang belum kawin, sehat, dan berkelakuan baik, umur kurang lebih 14-22 tahun dikerahkan menjadi seinendan (Organisasi pemuda bentukan Jepang).  Walaupun bersenjatakan bambu runcing namun Seinandan atau Fujinkai dilatih untuk menggunakan Katana ( Pedang Jepang) dan keahlian dalam menggunakan pedang samurai. Umur 23-25 tahun dijadikan sebagai  Keibodan. Keibodan adalah kesatuan di zaman Jepang yang kini bisa disamakan dengan Hansip. Umur 18-25 tahun dijadikan sebagai Heiho. Heiho adalah pasukan pembantu Jepang. Heiho melambangkan keberanian dan kesucian.

Setiap orang yang bersalah atau dianggap salah langsung berhadapan dengan Kenpetai adalah badan militer yang meneggakkan hukum seperti Kepolisian dan Kejaksaan. Penjahat tidak diadili, tapi diapakan? Tentu saja segera di gantung dan dipukuli sampai badannya luluh oleh pukulan pukulan tersebut. Ada yang mati dan ada yang langsung dilepaskan dalam keadaan meringis karena badannya luka luka berat.

B.     Sistem Kekerabatan

Suku sasak yang mendiami gumi Selaparang ini menggunakan bahasa daerah Sasak. Pada umumnya bahasa daerah Sasak tersebut dibagi dua yaitu bahasa alus dan bahasa jamaq. Bahasa alus digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan golongan bangsawan sasak sedangkan bahasa jamaq digunakan dalam pergaulan sehari hari.

Sistem kekerabatan suku sasak terdiri dari :
  • Keluarga inti.
Terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak.
  • Keluarga luas
Keluarga ini terdiri ayah, ibu, anak, kakak, adik, paman, bibi, menantu, mertua, kakek, nenek, sepupu.
  • Keluarga besar
Terdiri dari :
1.      Ego
2.      Inaq dan Amaq (Orang tua dari Ego)
3.      Papuq Nina dan Papuq Mama (Orang tua inaq dan amaq atau papuq dari ego)
4.      Baloq ( Orang tua dari Papuq Nina dan Papuq Mama, papuq dari inaq dan amaq, dan merupakan Baloq dari ego )
5.      Tata ( Orang tua dari Baloq, Papuq dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Baloq dari inaq dan amaq, dan merupakan Tata dari ego )
6.      Toker (Orang tua dari Tata, papuq dari Baloq, Baloq dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Tata dari inaq dan amaq, dan merupakan Toker dari ego )
7.      Goneng (Orang tua dari Toker, papuq dari Tata, Baloq dari Baloq, Tata dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Toker dari inaq dan amaq, dan merupakan Goneng dari ego )
8.      Kleoq (Orang tua dari Goneng, papuq dari Toker, baloq dari Tata, tata dari Baloq, Toker dari Papuq Nina dan Papuq Mama, Goneng dari inaq dan amaq, dan merupakan Kleoq dari ego )

            Atau keluarga besar ini disebut keluarga di luar keluarga inti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar